Home Top Ad

website Masjid Baiturrahman

MUHARRAM KITA JADIKAN SEBAGAI MOMENTUM UNTUK EVALUASI DIRI

Share:


MUHARRAM KITA JADIKAN SEBAGAI MOMENTUM UNTUK EVALUASI DIRI

DRS.H . IMAM GHOZALI, MM (sebagai Dosen Agama Islam UPN “Veteran” jatim)
Tidak terasa tahun baru hijrah atau tahun baru islam telah muncul kembali memasuki bulan muharram, menandai datangnya kembali tahun yang baru, kali ini memasuki tahun baru hijrah tanggal 15 nopember 2012 M ( 1 muharram 1434 H ) berarti umur kita sudah berkurang setahun lagi, jikalau di hitung sejak tahun hijrah yang lalu,tetapi sebagian banyak dari kita ini tidak merasa kurangnya umur itu, dari hari ke hari akhirnya menjadi seminggu, sebulan lalu setahun dan akhirnya sampailah kita pada detik terakhir dari kehidupan di dunia ini yakni ajal kematian, amat berbahagialah orang yang sewaktu di datangi ajalnya itu sudah banyak amal sholehnya, tetapi sebaliknya amat rugi sekali orang yang tidak bersedia bepergian jauh yaitu kea lam akhirat, karena tidak mempunyai amalan yang sholeh atau masih amat sedikit sekali, padahal segala macam amalan dilakukan seorang manusia di dunia ini, pasti akan diketahui catatatnya baik atau buruk sebagaimana Firman Allah SWT. Yang artinya : “Maka barang siapa yang mengerjakan seberat timbangan semut kecil yang berupa kebaikan, ia akan mengetahuinya dan barang siapa yang mengerjakan seberat timbangan semut kecil yang berupa keburukan, iapun akan mengetahuinya pula :” ( Q.S. Azzilzaal : ayat 7 – 8 ).
Tahun baru hijrah akan berbeda dengan tahun baru Masehi yang di sambut dengan penuh semarak adanya kembang api, meniup trompet, petasan, hiburan, dan juga banyak manusia meramaikan jalan raya sehingga nunggu jam 00-00 dan lain-lain.semua masyarakat untuk menyaksikan pergantian tahun baru Masehi, lain hal dengan tahun baru hijrah tidak perlu di sambut dengan kemeriahan pesta, namun demikian sangat penting jika tahun baru hijrah di jadikan sebagai momentum untuk merenungkan kembali kondisi masyarakat kota saat ini.
Tidak lain karena peristiwa hijrah Nabi saw dari kota Makkah ke kota Madinah memang kejadian itu sangat penting sekali sehingga di zaman kholifah Umar bin khothob lalu di tetapkan sebagai hitungan permulaan tahun, sebetulnya lebih mengambarkan momentum perubahan masyarakat ketimbang perubahan secara individual,hijrah Nabi saw tidak lain merupakan peristiwa yang menandai perubahan masyarakat jahiliyah saat itu menjadi masyarakat islam, inilah makna terpenting dari peristiwa hijrah Nabi saw. Sebagaimana di sebutkan dalam Al-Quran surat Al-Hajj : 58 -59 . Yang Artinya : “ Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik ( surga ) Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rizki, sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat ( surga ) yang mereka menyukainya.Dan sesungguhnya Allah Maha mengethui lagi Maha penyantun.”
Dalam arti luas hijrah berarti segala upaya dan gerakan untuk menjauhi segala perbuatan yang buruk, jahat dan keji. Di sebutkan dalam al-quran surat al-baqarah ayat 218. Yang Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman,orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” Maka dengan semangat gerakan hijrah tidak pernah selesai atau berhenti, dan menjadi kewajiban bagi setiap orang yang beriman kepada Allah swt.

Rasulullah saw pernah berhijrah ke Negara thoif untuk menghendaki tekanan dan ancaman kaum musrykin quraisy terhadap da’wah yang di lakukan beliau, para sahabat pernah di perintahkan berhijrah ke habasyah sampai dua gelombang untuk menghendari pemurtadan karena kekejaman kaum quraisy terhadap kaum muslimin di kota Makkah, dan hijrah Rasulullah saw ke kota Madinah adalah momen penting demi untuk peningkatan da’wah dan mempertahankan keimanan serta membangun masyarakat yang kemudian menjadi bangsa yang beradap dan disegani oleh seluruh penduduk bumi.
Oleh karena itu momen dan semangat hijrah merupakan gerakan dan dinamika da’wah yang harus dilakukan untuk mewujudkan bangsa yang beradap di atas dasar iman tauhid dan syariat Allah swt, sehingga tercapai “ Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghofur “ negeri yang bersih dari segala bentuk kejahatan di bawah pengampun Tuhan, dengan demikian jelas gerakan hijrah adalah gerakan kemanusiaan yang mulia bagi kemanusiaan dan dihadapan Allah swt. Secara bahasa hijrah berarti berpindah tempat adapun secara syar’I para fuqoha mendefinisikan hijrah sebagai keluar dari darul kufur menuju darul islam dalam definisi ini adalah suatu wilayah yang menerapkan syariat islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan yang keamanannya berada di tangan kaum muslim, sebaliknya darul kufur adalah wilayah yang tidak menerapkan syariat islam dan kemanannya bukan di tangan kaum muslim sekalipun mayoritas penduduknya beragama islam definisi semacam ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw, sendiri dari kota Makkah yang saat itu merupakan darul kufur ke Madinah yang kemudian menjadi darul islam.
Peristiwa hijrah paling tidak memberikan makna sebagai berikut :
a.       Pemisah antara kebenaran dan kebatilan antara islam dan kekufuran serta antara darul islam dan darul kufur paling tidak demikianlah menurut Umar bin Al-khathab ketika beliau menyatakan hijrah itu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan (HR.Ibnu Hajar).
b.      Tonggak berdirinya daulah islamiyah Negara islam untuk pertama kalinya dalam hal ini,para ulama dan sejarawan islam telah sepakat bahwa kota Madinah setelah hijrah Nabi saw telah berubah dari sekedar sebuah kota menjadi sebuah Negara islam bahkan dengan struktur yang menurut Cendikiawan barat, Robert N.Bellah, terlalu modern untuk ukuran zamannya saat itu Nabi saw sendiri yang menjabat sebagai kepala negaranya.
( Penulis adalah Dosen Agama Islam Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Surabaya)





PERBUATAN ORANG ITU BERBEKAS PADA HATINYA
(oleh :DRS.H.IMAM GHOZALI, MM)


Jika ada bagian tubuh manusia yang paling besar bahayanya,paling kompleks dampaknya,paling halus masalahnya,paling sukar diperbaiki dan paling rumit keadaannya,maka itu adalah qalb (hati) demikian ungkap imam ghazali dalam kitab terakhirnya,Minhajul Abidin.tidak salah bila kata bijak mengatakan bahwa dalamnya laut bisa diketahui,dalamnya hati siapa yang tahu.Hati memang tidak tampak tetapi dia menjadi penentu watak,karakter,bahkan perbuatan seorang manusia.
Hati itu adalah raja yang ditaati dan penguasa yang diikuti.Oleh karena itu jika hati hidup,maka baiklah perangai manusia.Tetapi jika hatinya rusak apalagi mati,maka amat buruklah amal perbuatannya.Jadi hati merupakan pusat perhatian Allah,maka tidaklah bisa dimengerti secara akal sehat bagaimana orang begitu suka merawat dan memperindah wajah dan fisiknya,sementara apa yang dilihat oleh Allah dibiarkan kotor tidak terurus,sehingga hati itu rusak dan penuh dengan penyakit.Padahal mengabaikan hati sama dengan menutup cahaya ilahi.
Allah SWT berfirman,”Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit,maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka,di samping kekafirannya ( yang telah ada ) dan mereka mati dalam keadaan kafir,” (At-Taubah,ayat 125 ).Menjelaskan ayat tersebut,Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa keraguan orang-orang yang kafir (sakit hatinya) semakin bertambah dan bertumpuk.Tentu hal tersebut adalah bentuk kecelakaan mereka, karena sesuatu yang seharusnya menjadi petunjuk bagi  hati justru menjadi penyebab kesesatan dan kehancuran mereka,persis seperti ramuan yang salah,jika dimakan hanya akan menjadikan penyakit semakin parah.Demikianlah hati, jika tidak dirawat sehingga kotor,maka menjadi rusak lalu mati.
Maka perbuatan orang itu berbekas pada hatinya,kalau orang berbuat baik,membuat hati bersih suci,dan kalau orang berbuat dosa membuat hatinya kotor,demikian setiap perbuatan manusia,sehingga kalau orang banyak berbuat dosa,hatinya sangat kotor,dan orang yang banyak berbuat baik hatinya menjadi bersih.karena hati merupakan penggerak perbuatan, seperti Sabda Rasulullah SAW. Yang Artinya, “Ketahuilah,sesungguhnya dalam tiap-tiap badan ada segumpal darah,apabila ia baik maka perbuatan orang menjadi baik,dan apabila buruk perbuatan orang menjadi buruk, yaitu hati.” (HR.Bukhari Muslim). Jadi hati yang bersih akan mendorong orang berbuat baik,meskipun tidak diperintah orang lain.Dan hati yang kotor akan mendorong orang berbuat dosa meskipun tidak ada yang memerintah,sebagaimana disebutkan dalam Hadist yang Artinya,”Sesungguhnya Allah tidaklah menilai seseorang dari bentuk jasmani kamu,dan tidak pula menilai rupa dan gaya kamu,tetapi Allah akan menilai hati dan amal perbuatan kamu,”(HR.Muslim dan Ibnu Majjah).
Ada pula ucapan Sahabat,”Lihatlah yang dikatakan,jangan melihat siapa yang mengatakan,”.Maksudnya bahwa nasihat sahabat Ali bin Abi Thalib ini mengajak kita untuk lebih memperhatikan ucapan atau perbuatan seseorang sebagai teladan,bukan meniru orangnya.maksudnya miskipun ia orang besar,berpangkat atau kaya raya,tetapi jika perbuatannya buruk tidak perlu kita teru,sebaliknya kendati ia orang kecil miskin ataupun tidak mempunyai jabatan apa-apa namun kalau ucapan dan perbuatannya baik harus kita jadikan contoh, sebab didalam pandangan agama islam manusia dinilai paling mulia di hadapan Allah SWT, bukan karena pangkat atau kedudukannya melainkan karena ucapan perbuatan dan tingkah lakunya,Allah Berfirman dalam Al-quran surat Al-Hasyr ayat : 18-19 (yang Artinya ),”Wahai ummat yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya (disiapkan) untuk hari esuk (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah,sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri,mereka itulah orang-orang yang Fasiq,” dapat kita jadikan alat untuk memperhatikan diri kita tentang perbuatan apa saja yang telah kita perbuat, Maka bersyukurlah pada Allah yang berkuasa membolak-balikkan hati hambah-Nya,sehingga ada kalanya hati manusia menjadi dekat dengan-Nya berkat bimbingan dan Rahmat-Nya dan ada kalanya jauh darinya karena penyimpangan dan kemaksiatan yang dilakukan.
Perbuatan hati,baik yang terpuji maupun perbuatan hati yang tercela yang direalisasikan oleh anggota tubuh/badan manusia yang berdasarkan pada Firman Allah dan Sabda Rasululllah manusia yang baik adalah manusia yang hidupnya bermanfaat bagi manusia lain,sebagaimana Nabi SAW,”KHOIRUNNAAS ANFA’UHUM LINNAAS,” diantara perbuatan manusia yang baik yang digerakan oleh Qolbun Salim, adalah menyenangkan orang lain, wajah yang selalu cerah ceria,wajah yang menyenangkan orang lain,jangan cemberut,senyum yang tulus, Rasulullah saw, selalu menyebar senyum karena senyum adalah shodaqoh,kata-kata yang santun danlembut,senang menyapa/mengucapkan salam,sopan bersikap dan penuh rasa hormat,penampilan yang menyenangkan dan rapi,maafkan kesalahan,silaturrahim akan putus,bila tidak saling memaafkan orang lain,Semoga kita dapat menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah swt, Amin… (Penulis adalah Dosen UPN “Veteran” Jatim Surabaya )




Tidak ada komentar